Rabu, 08 Juni 2011

analisis teori pragmatik dalam lagu "satu"

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Dalam memahami sebuah lagu, seseorang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan pengetahuan duniawi antara satu orang dengan yang lainnya berbeda. Respon yang diberikan dalam mendengarkan sebuah lagu, terutama lagu satu dapat berbeda-beda, karena analisis seseorang berbeda dengan yang lainnya. Analisis tersebut disesuaikan dengan bagaimana pendengar tersebut melihat dari konteks mana dalam memahaminya.
Lagu Satu milik Dewa ini merupakan salah satu contoh lagu yang pernah hits pada tahun 2010an. Lagu ini menarik dikaji karena pemahaman yang diperoleh oleh pendengar berbeda-beda, hal tersebut karena pemahaman didapat dengan cara dari sisi mana pendengar itu memahami lagu ini. Yakni konteks yang digunakan oleh pendengar adalah berbeda-beda, sesuai dengan pengetahuannya.
Teori pragmatic merupakan telaah mengenai relasi atau hubungan mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat (Levinson, 1980;1-27). Untuk memahami lagu satu, menuntut pendengar menganalisisnya dari konteks tertentu sesuai kemampuannya dalam menganalisis. Analisis antara satu orang dengan orang lainnya dapat berbeda, hal tersebut terjadi karena konteks yang mereka gunakan dalam menganalisis lagu tersebut berbeda-beda. Hal yang tergantung konteks tersebut, berkaitan dengan kajian teori pragmatic, sehingga penulis menggunakan teori pragmatic dalam menganalisis lagu satu ini yang berhubungan dengan konsep kemaknaan.

1.2 Rumusan Masalah
a) Apakah teori pragmatic itu?
b) Unsur-unsur apa saja yang terkandung dalam sebuah lagu?
c) Bagaimanakah peran teori pragmatic dalam memahami lagu Satu?
1.3 Tujuan
a) Memahami teori pragmatic secara umum.
b) Memahami unsur-unsur yang terkandung dalam sebuah lagu.
c) Memahami peran teori pragmatic dalam analisis lagu Satu.



























2. Pembahasan

2.1 Teori Pragmatik

Menurut Levinson, 1980;1-27, pragmatik adalah telaah mengenai relasi atau hubungan mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat.
Telaah mengenai bagaimana cara kita melakukan sesuatu dengan memanfaatkan kalimat-kalimat adalah telaah mengenai tindak ujar. Dalam menelaah tindak ujar ini, kita harus menyadari benar-benar batapa pentingnya konteks ucapan atau ungkapan.
Telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi cara kita menafsirkan kalimat disebut pragmatik. Teori tindak ujar adalah bagian dari pragmatic. Pragmatic itu sendiri merupakan bagian dari performansi dari linguistik. Pengetahuan mengenai dunia adalah bagian dari konteks, dan dengan demikian pragmatik mencakup bagaimana cara pemakai bahasa menerapkan pengetahuan dunia untuk menginterpretasikan ucapan-ucapan. Para pembicara kerap kali membuat asumsi-asumsi secara eksplisit mengenai dunia nyata dan rasa sesuatu ucapan dapat tergantung pada asumsi atau perkiraan sehingga membuat ucapan-ucapan secara semantis ganjil menjadi bermakna.

Definisi pragmatik:
1. cabang ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa. Satuan-satuan lingual dalam penggunaannya.
2. studi kebahasaan yang terikat konteks.
3. studies meaning in relation to speech situation (Leech, 1983).
4. cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana, 1996: 2).

Stephen C. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang berasal dari berbagai sumber dan pakar, yang dapat dirangkum seperti berikut ini.
1. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris, 1938:6). Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana, atau masalah). Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi.
2. Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa.
3. Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik, atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang diucapkan. Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna - kondisi-kondisi kebenaran.
4. Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa, dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat.
5. Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis, implikatur, anggapan penutur (presupposition), tindak ujar, dan aspek struktur wacana.




Dalam teori pragmatik, terdapat aneka aspek situasi ujaran selain unsur waktu dan tempat. Kegunaan yang nyata dari pengetahuan mengenai aspek-aspek situasi ujaran ialah memudahkan kita untuk menentukan dengan jelas hal-hal yang merupakan bidang garapan pragmatik dan hal-hal yang merupakan ranah telaah semantik. Selama kita menganut paham bahwa pragmatik menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran maka acuan terhadap satu atau lebih aspek-aspek berikut ini akan merupakan suatu kriteria:
1. Pembicara atau penulis dan penyimak atau pembaca
Dalam setiap situasi ujaran haruslah ada pihak pembicara (atau penulis) dan pihak penyimak (atau pembaca). Keterangan ini mengandung implikasi bahwa pragmatik tidak hanya terbatas pada bahasa lisan tetapi juga mencakup bahasa tulis.
2. Konteks ujaran
Kata konteks dapat diartikan dengan berbagai cara, misalnya kita memasukkan aspek-aspek yang sesuai atau relevan mengenai latar fisik dan social suatu ucapan. Konteks sebagai setiap latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh pembicara dan pembaca serta yang menunjang interpretasi pembaca terhadap apa yang di maksud pembicara dengan suatu ucapan tertentu.
3. Tujuan ujaran
Setiap situasi ujaran atau ucapan tantu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Dengan kata lain, kedua belah pihak yaitu pembicara atau penyimak terlibat dalam suatu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu.
4. Tindak ilokusi
Bila tata bahasa menggarap kesatuan-kesatuan statis yang abstrak seperti kalimat-kalimat (dalam sintaksis) dan proposisi-proposisi (dalam semantik), maka pragmatik menggarap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dalam waktu tertentu. Dalam hal ini pragmatik menggarap bahasa dalam tingkatan yang lebih konkrit daripada tata bahasa.
5. Ucapan sebagai produk tindak verbal
Selain yang telah diutarakan di atas, maka ada pengertian lain dari kata ucapan yang dapat dipakai dalam pragmatik, yaitu mengacu pada produk suatu tindak verbal, dan bukan hanya kepada tindak verbal sendiri.


2.2 Unsur-unsur yang terkandung dalam sebuah lagu
1. Harmonis
Pengertian harmonis secara sederhana adalah kesesuaian atau keseimbangan nada (atau nada-nada) suatu instrument dengan nada (atau nada-nada) instrument lainnya.
2. Irama atau ritme
Pengertian irama atau ritme secara sederhana adalah perulangan bunyi-bunyian menurut pola tertentu dalam sebuah lagu. Perulangan bunyi-bunyian ini juga menimbulkan keindahan dan membuat sebuah lagu menjadi enak didengar.
3. Melodis
Pengertian melodis secara sederhana adalah pergerakan atau perubahan tinggi rendahnya nada yang dimainkan dari waktu ke waktu. Suatu lagu yang indah atau bagus umumnya memiliki melodi yang enak didengar.
4. Nuansa atau suasana
Nuansa adalah suasana yang terasa dari sebuah lagu. Macam-macam suasana ini dapat dibangun atau dibuat melalui melodi, harmoni, irama dan juga efek suara instrument yang digunakan dalam sebuah lagu.Apakah suasana riang, gembira, sedih ataupun murung. Suasana suatu lagu dapat menimbulkan sensasi perasaan tertentu pada pendengarnya akibatnya membuat suatu lagu terasa indah atau enak didengar.
5. Alunan emosi
Alunan emosi adalah tahapan/pergerakan pencurahan emosi dalam sebuah lagu.
Dalam sebuah lagu harus ada emosi yang terkandung entah itu emosi marah, sedih, rindu dsb. Emosi-emosi ini dicurahkan menurut tahapan-tahapan tertentu, misalkan dari mulai dikenalkan, dicurahkan perlahan, meningkat, sampai ke puncak emosi kemudian menurun kembali dsb.Adanya emosi yang dapat dirasakan ini dapat mempengaruhi apakah suatu lagu akan terasa indah/bagus atau tidak. Lagu yang kandungan emosi didalamnya sulit ditangkap/dirasakan kemungkinan menjadi tidak menarik, dan sebaliknya.
Dalam membuat sebuah lagu, si musisi atau band akan berusaha untuk mencurahkan perasaannya sepenuh-penuhnya dan seutuh-utuhnya melalui bunyi-bunyian. Mengatur atau menata agar bunyi-bunyian yang dibuatnya indah, bagus atau enak didengar.Dan dalam proses pembuatan terciptanya lagu, si musisi atau band memperoleh kepuasan atau kesenangan. Orang lain, yang mendengar lagu tsb juga dapat memperoleh kepuasan dan kesenangan.
Namun karena pengertian lagu yang indah atau bagus akan berbeda dari orang ke orang. Dengan demikian tidak mudah membuat lagu yang akan dinilai indah atau bagus oleh banyak orang. Perbedaan pengertian dalam memaknai suatu lagu antara satu orang dengan orang lain merupakan cakupan teori pragmatik. Dari unsure-unsur yang terkandung dalam sebuah lagu di atas, merupakan unsure yang berperan dalam proses analisis pendengar mengenai suatu lagu.


2.3 Peran Teori Pragmatik Dalam Memahami Lagu Satu


Seseorang dalam memahami lagu satu dewa dapat menggunakan pengetahuannya tentang hal keduniaan untuk memahami tiap-tiap liriknya sejalan dangan unsur-unsur yang terkandung dalam sebuah lagu. Meskipun pada dasarnya seseorang yang sangat mengerti dan memahami maksud dari lagu tersebut adalah pengarang yakni Ahmad Dani, akan tetapi ketika lagu tersebut sedang di dengarkan oleh seseorang maka pendengar tersebut berusaha untuk memahaminya, dan hal ini terjadi secara alamiah. Proses pemaknaan berdasarkan teori pragmatic sebenarnya proses pengkajian seseorang dalam menafsirkan suatu tanda bahasa termasuk lagu satu ini. Hasil dari proses pengkajian tersebut adalah berupa pemahaman seseorang mengenai suatu hal. Sebenarnya, konsep yang ada dalam kebahsaan dan konsep yang ada dalam kesusastraan adalah berbeda, seorang penulis sastra memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam menulis suatu karyanya, sedangkan konsep kebahasaan memiliki keterikatan dengan aturan kebahasaan. Namun bagi orang secara umum, memahami suatu karya sastra dapat ditentukan dengan pengetahuan yang dia miliki baik berupa pengetahuan maupun pengalamannya. Begitupun dalam memahami lagu satu, saorang pendengar mestinya berusaha memahami tiap bait liriknya dan dihubungkan dengan pengatahuan, pengalaman, maupun perasaanya.
Para pengarang yang kreatif pasti memiliki maksud tertentu dalam menulis suatu karya, dan untuk memahaminya maka tergantung dengan pengetahuan penikmat karya tersebut. Sebagai contoh dalam lagu satu terdapat lirik
“aku ini adalah dirimu
cinta ini adalah cintamu
aku ini adalah dirimu
jiwa ini adalah jiwamu
rindu ini adalah rindumu
darah ini adalah darahmu”
Dalam memahami bait lirik tersebut saja dapat ditafsirkan berbeda-beda. Tergantung pendengar menikmatinya dari sisi apa. Lirik tersebut dapat dipahami, bahwa penulis berusaha menuangkan perasaan cintanya kepada kekasih. Bukan asal memahami saja dalam menganalisis lagu tersebut, pengetahuan yang telah dimiliki seseorang berperan dalam proses pemahaman ini. Kata-kata cinta, rindu, jiwa, darah, sarat dengan kata-kata yang berkaitan dengan perasaan pada seorang kekasih. Pengarang seakan-akan ingin memberikan pemujaan terhadap kekasihnya melalui lagu ini. Namun, analisis tidak selesai sampai disitu saja. Masih terdapat banyak kemaknaan yang ditinbulkan oleh lagu tersebut, karena rasa cinta tidak hanya diberikan untuk kekasih saja, akan tetapi dapat saja mengandung rasa cinta dan rasa rindu terhadap Tuhannya. Jadi pada dasarnya, respon yang diberikan oleh pendengar dalam memahami lagu ini tergantung pendengar menganalisis dari konteks yang mana. Lagu ini dapat dikaji melalui sisi ketuhanan, percintaan terhadap kekasih, ataupun konteks-konteks lainnya yang beragam.
Pada hakikatnya teori pragmatic mempelajari konsep-konsep yang abstrak. ‘Konteks’ sebenarnya juga merupakan sesuatu yang abstrak oleh karena itu perlu kejelian dalam mengkaji peran teori pragmatic dalam suatu lagu tertentu. Kaitan lagu dengan konteks yang digunakan oleh pendengar pun bersifat abstrak, akan tetapi pembahasan ini diperlukan karena untuk membuktikan bahwa dalam menganalisis sebuah karya seperti lagu, teori pragmatic memiliki peran karena untuk memperoleh pemahaman diperlukan kesesuaian konteks. Konteks sangat diperhatikan dalam teori satu ini. Karena dalam memaknai suatu hal, tidak hanya dapat dilihat dari satu sisi saja, akan tetapi dapat dilihat dari berbagai sisi yang digunakan oleh penganalisis.



3. Penutup
Dalam memahami suatu lagu diperlukan kesesuaian konteks untuk memahaminya, karena pemahaman yang dialami oleh seseorang dapat berbeda dengan orang lain. Teori pragmatic merupakan teori kemaknaan yang berdasarkan konteks. Begitu pula dalam menganalisis lagu “satu” memerlukan konteks-konteks tertentu agar mudah memahaminya. Namun, pada hakikatnya apapun yang dipahami seseorang mengenai suatu lagu, konteks berperan dalam proses penalarannya yang memiliki kesesuaian dengan teori pragmatic yang berkaitan erat dengan konteks.
















Lampiran-lampiran
Satu - Dewa
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
aku ini adalah dirimu
cinta ini adalah cintamu
aku ini adalah dirimu
jiwa ini adalah jiwamu
rindu ini adalah rindumu
darah ini adalah darahmu
Reff:
tak ada yang lain selain dirimu
yang selalu ku puja
ku sebut namamu di setiap hembusan nafasku
ku sebut namamu, ku sebut namamu
dengan tanganmu aku menyentuh
dengan kakimu aku berjalan
dengan matamu aku memandang
dengan telingamu aku mendengar
dengan lidahmu aku bicara
dengan hatimu aku merasa
repeat reff






Daftar Pustaka
Lirik lagu indonesia. 2010. Di http://liriklaguindonesia.net/d/dewa/laskar-cinta/dewa-satu/ (diakses pada tanggal 14 mei 2011)
Simphonymusic. 2009. Di http://simphonymusic.com/info/unsur-yang-perlu-dimiliki-untuk-sebuah-lagu-bagus/ (diakses pada tanggal 15 mei 2011)
Tarigan, Henry. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Yswan. 2009. Di http://yswan.staff.uns.ac.id/2009/04/08/pragmatik/ (diakses pada tanggal 14 mei 2011)

















Makalah
“Peran Teori Pragmatik Dalam Memahami Lagu Satu”
Diajukan Sebagai Pemenuhan Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Semantik

Oleh:

Ma’rifatus Zuhlia
(090210402079)


PROGRAM STUDI PENDIDIDKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2009
Kata Pengantar


Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga MAKALAH ini berhasil di selesaikan. Judul yang dipilih Peran Teori Pragmatik Dalam Memahami Lagu Satu
Diharapkan makalah ini bermanfaat untuk menambah informasi mengenai pemahaman pembaca bahwa dalam menganalisis sebuah lagu teori pragmatic berperan didalamnya.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun agar berguna dalam penulisan makalah selanjutnya. Semoga saja makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar